Awal yang terasa sederhana — tapi ternyata ribet
Pada suatu sore di akhir Mei 2024, saya duduk di meja dapur dengan secangkir kopi, laptop, dan rencana sederhana: mengadakan acara kecil untuk komunitas penulis lokal—15 orang, makanan ringan, presentasi singkat, dan rekaman video. Saya pikir, “Mudah. Cukup cari vendor lokal.” Dua jam kemudian, kepala saya sudah penuh notifikasi WhatsApp, email otomatis, dan tautan website yang semua-nya terasa sama. Frustrasi muncul, bukan karena kesulitan menemukan vendor, tetapi karena semua terasa… generik. Seperti mesin yang memuntahkan jawaban yang pas-pasan.
Saat itulah saya sadar satu hal: banyak vendor sudah mengandalkan AI untuk menyusun proposal, membuat portofolio, bahkan membalas chat awal. Di satu sisi itu efisien. Di sisi lain, itu bikin proses personal menjadi dingin dan rawan miskomunikasi. Saya ingin vendor yang paham konteks acara: ruang kecil, kebutuhan teknis minimal, mood cozy. Bukan paket “Event Pro” yang dikemas sama saja untuk 200 orang atau pesta pernikahan besar.
Proposal AI: kilat tapi sering meleset
Satu vendor mengirim balasan dalam waktu 30 detik. Itu cepat—terlalu cepat. Proposalnya rapi, lengkap dengan breakdown biaya, visual mockup, dan opsi tambahan. Tapi ketika saya membaca lebih teliti, banyak detail yang tidak relevan: “lighting rig 12 lampu RGB”, “crew 6 orang”, dan foto portofolio yang tampak sangat generik. Itu tanda AI meramu template tanpa memahami konteks saya.
Saya sempat tergoda oleh tampilan profesional itu. Lalu saya tanya, “Siapa yang akan datang hari-H? Berapa lama setup?” Jawaban singkat: “Semua bisa disesuaikan.” Itulah problemanya—jawaban itu tidak menjawab apa pun. Interior thinking saya bergumam: apakah aku mau bayar jasa ‘kesan’ atau jasa nyata? Dalam hati saya bilang, “Tolong, tunjukkan contoh nyata untuk ruang 50 m2, bukan ballroom.”
Contoh lainnya: vendor videografi yang mengandalkan generator AI untuk membuat skrip video. Mereka kirimkan naskah yang terasa robotik—kalimatnya sempurna tapi tanpa jiwa. Saya membalas dengan permintaan revisi yang spesifik: tone harus hangat, durasi 3 menit, fokus pada momen obrolan. Baru setelah dua kali revisi dan diskusi panjang muncul versi yang manusiawi. Itu momen jernih: AI bisa mempercepat, tapi tak menggantikan rasa estetika manusia.
Proses verifikasi yang saya terapkan — step-by-step
Dari pengalaman itu saya menyusun satu pendekatan sederhana yang bisa membantu siapa pun yang punya acara kecil. Pertama, minta bukti nyata untuk konteks serupa: “Kirim video atau foto acara di ruangan 40–60 m2.” Kedua, minta konfirmasi live: telepon 10 menit cukup untuk menilai apakah vendor benar-benar paham. Ketiga, tanyakan eksplisit soal penggunaan AI: alat apa yang dipakai, siapa yang merevisi output, dan bagaimana hak cipta ditangani.
Satu vendor cukup jujur: “Kami pakai AI untuk draft awal, tapi editor manusia yang menyunting.” Itu jawaban yang saya hargai. Lainnya mengaku semua otomatis—itu jadi red flag. Saya juga meminta sample voiceover dari manusia, bukan TTS generik. Kalau mereka keberatan menunjukkan kerja manusiawi, saya geser ke opsi lain.
Saya bahkan menguji vendor event planner yang direkomendasikan teman—mereka punya situs cantik, tautan ke keysbreezeweddings, tetapi ketika saya minta breakdown jadwal 3 jam acara, mereka awalnya kirimkan template 6 jam tanpa penyesuaian. Perbedaan kecil itu, berulang kali, menunjukkan apakah vendor mempersonalisasi layanan atau hanya mengandalkan template otomatis.
Hasil, refleksi, dan pelajaran yang bisa dipakai
Hasil akhirnya cukup memuaskan: saya memilih vendor kecil yang kombinasikan AI untuk efisiensi administrasi—penjadwalan otomatis, invoice cepat—dengan sentuhan manusia di produk akhir. Hari-H, suasana hangat, rekaman terdengar natural, dan pengaturan lighting pas. Yang saya pelajari tidak menarik: AI bukan musuh. AI adalah alat. Masalah muncul saat alat itu menggantikan komunikasi manusia yang seharusnya terjadi.
Pelajaran praktis yang saya bagi kepada teman-teman: tanyakan detail spesifik, minta bukti konteks, lakukan test call, dan selalu minta yang manusiawi untuk deliverable utama. Jangan malu untuk menolak proposal yang tampaknya ‘terlalu sempurna’. Kadang, yang sempurna itu artinya generik.
Saat ini, saya lebih sabar memeriksa kontrak—clauses tentang penggunaan AI, hak cipta konten, dan siapa bertanggung jawab bila hasil akhir tidak sesuai. Pengalaman itu mengajarkan satu hal lagi yang sederhana tetapi kuat: nilai kerjasama manusia tidak bisa dinilai dari desain website yang rapi. Untuk acara kecil yang butuh rasa, pilih vendor yang mau mendengar lebih dulu sebelum menawarkan solusi.